Sabtu, 23 April 2016

Pengguna Media Sosial Indonesia Jadi 'Favorit' Hacker


Liputan6.com, Jakarta - Indonesia dengan populasi penduduk lebih dari 250 juta jiwa bukan hanya peluang manis buat para panjaja produk, tapi juga dilirik oleh penipu dunia maya. Bahkan para penipu internet tersebut memanfaatkan berbagai peluang yang ada, termasuk menggunakan media sosial.

Director Systems Engineering ASEAN Symantec, Halim Santoso, mengatakan bahwa media sosial masih menjadi target idaman para peretas. Dalam data Internet Security Threat Report Symantec, Indonesia menduduki peringkat ke-45 di tingkat global dalam hal penipuan media sosial.

Sedangkan untuk wilayah Asia Pasifik dan Jepang, Indonesia menduduki peringkat 10. Salah satu faktor pendukung terjadinya hal tersebut adalah besarnya ketertarikan masyarakat terhadap media sosial.

"Indonesia memiliki populasi online yang besar, terlebih lagi memiliki pengguna media sosial yang banyak. Sehingga mudah ditargetkan," ungkap Halim saat ditemui di kawasan Jakarta, Selasa (19/4/2016).

Lebih lanjut, Indonesia ternyata menduduki posisi ke-13 di Asia Pasifik untuk serangan ransomware dengan 14 serangan setiap harinya. Para dalang di balik ransomware, meminta uang tebusan kepada pengguna yang komputernya terinfeksi oleh malware tersebut.
Ransomware sendiri terus mengalami peningkatan pada tahun lalu. Dengan gaya serangan crypto-ransomware, serangannya mengalami peningkatan sebesar 35 persen dengan total sebanyak 362 ribu.

Ransomware tidak hanya menyerang PC. Pada tahun lalu, serangannya telah menyebar luas hingga ke smartphone, sistem Mac dan Linux.
(Din/Ysl)

Rabu, 20 April 2016

Tarif Jasa Bobol Akun Email Mulai dari Rp 855 Ribu!


Liputan6.com, Texas - Dell memublikasikan laporan tahunan Underground Hacker Market. Menurut informasi yang dikutip dari laman Business Insider, Sabtu (9/4/2016), laporan ini mengungkapkan tarif yang dipatok oleh para hacker (peretas) untuk membobol sejumlah akun di dunia maya.

Dell menyebutkan informasi ini dikumpulkan dua orang analis intelijen dari perusahaan CISO INTEL. Mereka melacak hacker di sejumlah forum underground hacker di seluruh dunia.

Laporan ini berfokus pada pasar Rusia dan pasar berbahasa Inggris selama kurun waktu kuartal ketiga 2015 hingga kuartal pertama 2016. Beberapa informasi di dalam laporan tersebut mengungkap bahwa hacker memasang tarif US$ 129 atau Rp 1,7 juta untuk membobol akun email Amerika Serikat seperti Gmail, Hotmail, serta Yahoo.

Para hacker juga menawarkan jasa untuk membongkar email perusahaan dengan tarif US$ 500 atau Rp 6,5 juta. Sementara untuk membongkar email Rusia, tarif yang ditawarkan adalah US$ 65-103 atau Rp 855 ribu-1,3 juta.

Kemudian, untuk membobol akun email Ukraina, para hacker meminta ongkos jasa sebesar US$ 129 atau Rp 1,7 juta. Jika pengguna ingin meretas alamat IP komputer, dikenai tarif tambahan US$ 90 atau 1,1 juta.

Bukan hanya email, sejumlah media sosial seperti Facebook dan Twitter juga bisa dibobol hacker dengan tarif US$ 129 atau Rp 1,7 juta. Sementara jika ingin membongkar akun laman media sosial Rusia seperti VK.ru dan OK.ru, mereka memasang ongkos jasa US$ 194 atau Rp 2,5 juta.

Akun Lazada Wanita Ini Dibobol, Jutaan Rupiah Melayang


Liputan6.com, Jakarta - Seorang wanita bernama Adinda Mutia Muwardati mengaku mendapatkan tagihan kartu kredit jutaan rupiah dari Lazada Indonesia. Padahal, ia sudah lama tidak melakukan transaksi di e-Commerce tersebut. Tagihan kartu kredit datang menghampiri Dinda--sapaan akrabnya--baru-baru ini melalui email transaksi pembelian Lazada Indonesia. "Saat itu tiba-tiba saya mendapatkan email transaksi pembelian pulsa senilai Rp 1 juta dari Lazada. Padahal saya tidak merasa melakukan transaksi pembelian pulsa. Saya terakhir melakukan transaksi di Lazada sekitar Juni 2015," kata Dinda kepada tim Tekno Liputan6.com, Minggu (10/4/2016). Ketika mendapatkan email dari Lazada, Dinda menganggap itu sebagai angin lalu karena ia sedang dalam perjalanan. "Karena saya masih dalam perjalanan menuju kantor, saya menganggap email tersebut sebagai angin lalu. Setibanya di kantor, saya penasaran dan kembali membuka email tersebut. Ternyata benar email itu tertulis pemesanan barang dengan nama dan alamat saya," ungkapnya. Kemudian, Dinda langsung mengecek inbox kembali dan ia mendapatkan lima email transaksi lain yang mengatasnamakan dirinya. Kuat dugaan bahwa akun wanita tersebut telah dibobol oleh pihak yang tak bertanggung jawab.
"Langsung saja saya membuka laptop kantor dan mencoba log in ke akun Lazada saya. Ternyata password saya telah diganti oleh hacker. Setelah me-reset password, saya segera cek history transaksi, ternyata yang saya takutkan benar terjadi. Akun dan kartu kredit saya disalahgunakan orang lain," ujarnya.